Suntikan Modal Jumbo PT Sampang Sarana Shorabase, Menakar Kinerja BUMD Sampang yang Gemar Menyusu pada APBD
Di tengah kegagalan perusahaan daerah mencapai target pendapatan, pemkab justru kembali menghadiahi tambahan modal sebesar Rp1 miliar kepada PT Sampang Sarana Shorebase (PT SSS) untuk tahun anggaran 2025.
Berdasarkan data yang dihimpun, PT Geliat Sampang Mandiri (PT GSM) selaku induk usaha memang berhasil menyetor Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp400,95 juta, angka ini naik dari tahun lalu yang hanya Rp47,97 juta, namun, bagi sebuah BUMD yang dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) ditargetkan meraup Rp1,1 miliar, capaian Rp400 juta tersebut sebenarnya adalah bukti bahwa perusahaan resmi merugi dalam laporan pertanggung jawabannya.
Anehnya, alih-alih dievaluasi secara radikal, kinerja "minus" ini justru diganjar dengan tambahan modal segar dari APBD, ironinya, hingga kalender berjalan memasuki tahun 2026, masyarakat Sampang dipaksa maklum tanpa diberi tahu ke mana saja uang daerah itu mengalir.
Detail total modal yang sudah ditelan PT GSM, porsi investasi yang diteruskan ke PT SSS, hingga biaya operasional internal termasuk rincian gaji serta bonus para direksi dan komisaris, tetap menjadi rahasia korporasi yang paling rapat semadura, publik seperti diminta membeli kucing dalam karung, modal terus ditambah, tetapi struktur biaya di dalamnya tabu untuk dibuka, rekam jejak PT SSS pun sebenarnya tidak bersih-bersih amat.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Daerah (IHPD) Jawa Timur 2020 sempat menemukan sederet borok tata kelola dan meminta manajemen berbenah, hingga hari ini, klaim perbaikan regulasi memang terdengar, namun hasil nyata dari perbaikan itu bernasib sama dengan transparansi anggaran mereka, gaungnya ada, wujudnya gaib.
Pengamat kebijakan publik, Said Abdullah, menilai logika investasi pemkab dalam kasus ini agak terbalik, menurutnya, tambahan modal di saat target dividen jeblok adalah anomali bisnis.
"Harus transparan, apa dasar pertimbangan bisnisnya dan berapa proyeksi untungnya? Publik berhak tahu, jangan sampai modal rakyat hanya habis untuk membiayai napas buatan perusahaan," sindir Said. Senin (13/07)
Sikap "kompak" kemudian ditunjukkan oleh para birokrat dan petinggi BUMD Sampang saat dikonfirmasi, kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Sampang, Kustantinah, memilih mempraktikkan aksi bungkam yang elegan.
Daftar pertanyaan mengenai status rekomendasi BPK, akumulasi modal rakyat, hingga besaran gaji para bos BUMD yang dikirimkan, diabaikan hingga berita ini dirilis.
Setali tiga uang, Direktur Utama PT Sampang Sarana Shorebase, Insiyatun, juga mendadak irit bicara, konfirmasi mengenai penggunaan modal Rp1 miliar dan pertanggungjawaban temuan BPK tidak kunjung direspon hingga tenggat waktu redaksi berakhir.
Pada akhirnya, PT Sampang Sarana Shorabase sukses memperlihatkan sebuah model bisnis yang unik, sebuah perusahaan daerah yang eksistensinya tidak diukur dari seberapa besar keuntungan yang dikembalikan ke kas rakyat, melainkan dari seberapa kuat ia bertahan hidup dari menyusu pada dana APBD.

Posting Komentar