Hanya Menu Kering, Pelaksanaan MBG di SDN Tamba’an 1 Dikeluhkan Wali Murid
SAMPANG - Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Tamba’an 1, Desa Tamba’an, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, yang di suplai Yayasan Babur Rizki pada hari Sabtu 24/01/2026 menuai sorotan setelah wali murid menyampaikan keluhan terkait kualitas menu serta dugaan tidak maksimalnya pemanfaatan anggaran program tersebut.
Keluhan wali murid diterima media menyusul pembagian paket MBG yang dinilai tidak sebanding dengan tujuan program pemenuhan gizi anak sekolah, berdasarkan MBG yang diterima media, paket MBG yang dibagikan hanya terdiri atas makanan kemasan, satu butir telur, dan satu buah, yang dikemas dalam kantong plastik Warna Merah.
Wali murid mempertanyakan apakah komposisi tersebut telah sesuai dengan standar gizi serta ketentuan pusat, terutama jika dikaitkan dengan alokasi anggaran MBG per siswa yang seharusnya mampu menghadirkan menu lebih layak dan bernilai gizi seimbang.
Menanggapi hal itu, media mengonfirmasi Faris selaku Kepala SPPG Camplong, Faris membenarkan bahwa paket MBG di SDN Tamba’an 1 merupakan menu kering.
“Ini menu keringan,” ujar Faris melalui pesan singkat WhatsApp.
Saat ditanya apakah menu kering tersebut telah sesuai dengan ketentuan pusat apabila dihitung secara kalkulasi anggaran, Faris menyatakan bahwa pihaknya menilai menu tersebut sudah sesuai.
“Kalau menurut kami sudah, silakan sambil dikalkulasi dan dikoordinasikan,” katanya.
Namun demikian, pernyataan tersebut tidak disertai penjelasan rinci mengenai standar gizi, komposisi nutrisi, maupun transparansi perhitungan anggaran per siswa yang digunakan dalam pelaksanaan MBG.
Sementara itu, media juga telah meminta tanggapan kepada Eko selaku Ketua MBG Yayasan Babur Rizki. Media secara spesifik menanyakan apakah pelaksanaan MBG tersebut telah sesuai dengan ketentuan pusat apabila dikalkulasi dari sisi anggaran, menyusul adanya keluhan dari wali murid.
Dalam pesan singkat melalui WhatsApp, Eko hanya menyampaikan bahwa penjelasan akan disampaikan secara langsung.
“Sy jelaskan kerumah bos,” tulis Eko, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut mengenai kesesuaian menu, standar gizi, maupun dasar perhitungan anggaran MBG yang dipersoalkan.
Persoalan di SDN Tamba’an 1 ini muncul di saat pelaksanaan MBG di SDN Batuporo Timur 1 sebelumnya juga belum tuntas, munculnya dugaan permasalahan kembali di sekolah lain memunculkan sorotan publik terkait konsistensi pelaksanaan, efektivitas pengawasan, serta optimalisasi penggunaan anggaran MBG di Kabupaten Sampang.
Wali murid menilai persoalan MBG tidak dapat dipandang sebagai persoalan administratif semata, melainkan menyangkut kesehatan dan hak dasar anak-anak.
Mereka mendesak Satgas MBG Kabupaten Sampang dan pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh, terutama terkait kepatuhan terhadap ketentuan pusat, transparansi anggaran, serta kualitas menu yang dibagikan kepada siswa.
Program nasional yang bertujuan meningkatkan gizi dan kesehatan anak sekolah tersebut diharapkan tidak sekedar memenuhi aspek distribusi, tetapi benar-benar menjamin kualitas, kelayakan, dan manfaat nyata bagi peserta didik. ( Team )
