Cegah Gagal Panen, Inilah Cara Ampuh Atasi Hama Padi dengan Pengendalian Terpadu
Menurut penyuluh pertanian lapangan (PPL), langkah pengendalian hama tidak cukup hanya mengandalkan penyemprotan kimia, melainkan perlu pendekatan terpadu antara cara mekanis, biologis, dan kimiawi.
1. Hama Tikus Sawah
Ciri serangan: tanaman muda patah atau hilang, lubang di pematang, serta bekas gigitan di pangkal batang
Cara mengatasi:
Secara mekanis: tutup lubang sarang tikus dan lakukan gropyokan (perburuan massal) sebelum tanam. Secara biologis: gunakan predator alami seperti ular sawah atau burung hantu (Tyto alba). Secara kimia: gunakan rodentisida seperti Klerat atau Bromadiolone, dengan dosis sesuai anjuran kemasan. Letakkan umpan di jalur aktif tikus, hindari penyebaran di area terbuka agar tidak mencemari lingkungan.
2. Hama Belalang dan Ulat Grayak
Ciri serangan: daun berlubang, batang muda rusak, dan malai gagal terbentuk.
Cara mengatasi:
Secara mekanis: lakukan penyemprotan air sabun (campuran 20 ml sabun cair per 1 liter air) untuk mengganggu aktivitas belalang. Secara biologis: gunakan Beauveria bassiana, jamur entomopatogen yang dapat membunuh belalang dan ulat tanpa merusak tanaman. Secara kimia: gunakan insektisida berbahan aktif Lambda Cyhalothrin atau Deltamethrin dengan dosis 2 ml per liter air. Lakukan penyemprotan pada pagi atau sore hari.
3. Hama Wereng Batang Cokelat
Ciri serangan: daun menguning, tanaman kering seperti terbakar (“hopper burn”)
Cara mengatasi:
Gunakan varietas padi tahan wereng seperti Inpari 32 atau Ciherang Sub 1.
Kurangi penggunaan pupuk urea berlebihan karena dapat menarik wereng. Gunakan insektisida seperti Imidacloprid (contoh merek: Confidor, Admire) dengan dosis 1 ml/liter air, semprot pada bagian bawah daun.
4. Hama Penggerek Batang Padi
Ciri serangan: daun muda menguning dan mati pucuk (“beluk”)
Cara mengatasi:
Gunakan lampu perangkap untuk menarik ngengat penggerek.
Lakukan penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif Fipronil atau Chlorantraniliprole sesuai anjuran. Hindari tanam serentak yang tidak seragam karena memperpanjang siklus hama.
Langkah Pencegahan Umum
Tanam serempak antar petani dalam satu wilayah untuk memutus siklus hidup hama. Jaga kebersihan lahan, buang jerami dan gulma yang bisa jadi tempat berkembang biak. Gunakan pupuk seimbang antara urea, SP-36, dan KCl. Pantau rutin setiap minggu terutama pada masa vegetatif awal (umur 7–40 hari setelah tanam).
• Kesimpulan:
Pengendalian hama padi sebaiknya dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan, tidak hanya mengandalkan pestisida kimia. Dengan langkah yang tepat, petani bisa menjaga produktivitas sekaligus melestarikan lingkungan ( Red )
