Usai Proyek Rp239 Juta Disorot, Kepala SLB Sampang Diduga Menghilang!


SAMPANG -
Proyek rehabilitasi Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Sampang yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Dalpenang, Kabupaten Sampang, kini menjadi sorotan tajam publik. Dana senilai Rp239 juta yang bersumber dari APBN melalui Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2025 disebut tidak sebanding dengan hasil pekerjaan yang tampak di lapangan.

Program yang seharusnya menjadi langkah positif dalam meningkatkan fasilitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus itu justru memunculkan tanda tanya besar. Bangunan memang tampak lebih rapi dengan cat baru, namun di baliknya muncul dugaan adanya penyimpangan anggaran.

Sekretaris Jenderal Gabungan Aktivis Sosial Indonesia (GASI), BBG, menilai hasil pekerjaan rehabilitasi fisik SLB Sampang tidak mencerminkan nilai proyek yang mencapai ratusan juta rupiah.

“Saat kami dari tim GASI turun langsung ke lokasi, tidak terlihat perubahan signifikan. Hanya pergantian atap, plafon baru, lantai keramik, dan cat dinding. Dengan dana Rp239 juta, hasilnya sangat tidak sebanding,” ujar BBG dengan nada kecewa, Senin (20/10/2025).

Ia juga menyoroti penggunaan material yang diduga berkualitas rendah.

“Pasir yang dipakai tampak kasar dan tidak layak, plafon hanya diganti kayu osok. Kami menduga ada kongkalikong antara kepala sekolah dan pihak rekanan proyek. Semua terkesan ditutup-tutupi,” tambahnya.

Sejak proyek itu ramai dibicarakan, Kepala SLB Negeri Sampang disebut jarang berada di sekolah. Beberapa kali tim GASI dan awak media mencoba melakukan klarifikasi, namun yang bersangkutan tak pernah bisa ditemui.

“Kami sudah datang beberapa kali, tapi selalu dibilang kepala sekolah sedang keluar. Saat dihubungi lewat telepon pun tidak diangkat. Sikap seperti ini menimbulkan kecurigaan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan,” kata BBG.

Hal senada juga diungkapkan sejumlah jurnalis lokal. Upaya konfirmasi melalui panggilan telepon dan kunjungan langsung tidak mendapat tanggapan.

“Kami hanya ingin mendengar penjelasan, bukan menghakimi. Tapi kenapa justru menghindar?” ujar salah satu jurnalis yang memantau proyek tersebut.

Proyek rehabilitasi SLB Sampang yang seharusnya menjadi simbol perhatian negara terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus kini justru meninggalkan kesan negatif.

“Jika kepala sekolah saja sulit ditemui, bagaimana publik bisa percaya bahwa uang negara digunakan dengan benar?” tutup BBG.

Editor : Redaksi
Penulis : Team

KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image